Selasa, 01 November 2016

Beberapa Teori Kewirausahaan

Seiring berjalannya waktu, kewirausahaan mempunyai perkembangan yang signifikan, oleh karena itu, lahirlah berbagai macam teori tentang kewirausahaan. Pada kesempatan kali ini akan membahas beberapa teori mengenai kewirausahaan, diantaranya dalah sebagai berikut :


1. Teori Neo Kalsik. Teori ini memandang perusahaan sebagai sebuah istilah teknologis, dimana manajemen (individu) hanya mengetahui biaya dan penerimaan perusahaan dan sekedar melakukan kalkulasi matematis untuk menentukan nilai optimal dari variabel keputusan. Jadi, pendekatan neo klasik tidak cukup mampu untuk menjelaskan isu mengenai kewirausahaan. Dalam teori ini, kemandirian sangat tidak terlihat, wajar saja, karena ini memang pada masa lampau dimana belum begitu urgent masalah kemandirian, namun cukup bisa menjadi teori awal untuk melahirkan teori-teori mengenai kewirausahaan selanjutnya.



2. Teori Kirzerian Entrepreneur. Dalam teori ini, Kirzer menyoroti tentang kinerja manusia, keuletannya, keseriusannya, kesungguhannya dalam berusaha, sehingga maju mundurnya suatu usaha tergantung pada upaya dan keuletan sang pelaku usaha. Dari berbagai disiplin ilmu, lahirlah teori kewirausahaan yang dipandang dari sudut pandang mereka masing-masing :

A. Teori ekonomi memandang bahwa  lahirnya wirausaha disebabkan karena adanya peluang, dan ketidakpastian masa depanlah yang akan melahirkan peluang untuk dimaksimalkan, hal ini berkaitan dengan keberanian mengambil peluang, berspekulasi, menata organisasi, dan melahirkan berbagai inovasi.

B. Teori Sosiologi lebih mempelajari tentang asal-usul budaya dan nilai-nilai sosial di suatu masyarakat, yanag akan berdampak pada kemampuannya menanggapai peluang usaha dan mengolah usaha, sebagi contoh orang etnis Cina dan Padang dikenal sebagai orang yang ulet berusaha, maka fakta di lapangan menunjukan, bahwa banyak sekali orang Cina dan Padang yang meraih kesuksesan dalam berwirausaha

C. Selanjutnya Teori Psikologi. Teori ini lebih menekankan pada motif individu yang melatarbelakangi dirinya untuk berwirausaha, apabila sejak kecil ditanamkan untuk berprestasi, maka lebih besar kemungkinan seorang individu lebih berani dalam menanggapi peluang usaha yang diperoleh.

D. Yang terakhir adalah Teori Perilaku (Behavior). Bagaimana seorang wirausahawan harus memiliki kecakapan dalam mengorganisasikan suatu usaha, memanajemenkan keuangan dengan teiliti, mebnagun jaringan, dan memasarkan produk, dibutuhkan pibadi yang supel dan pandai bergaul unutk memajukan suatu usaha.



3. Teori Schumpeter's Entrepreneur. Kajian Teori Schumpeter's lebih banyak dipengaruhi oleh kajian kritisnya teori keseimbangan (Equilibrium Theory). Menurutnya, unutk mencapai keseimbangan diperlukan tindakan dan keputusan aktor (pelaku) ekonomi yang harus berulang-ulang dengan cara yang sama hingga mencapai keseimbangan. Jadi kata kuncinya adalah berulang-ulang dengan cara yang sama, yang menurut Schumpeter disebut sebagai situasi statis, dan situasi tersebut tidak akan membawa perubahan. Schumpeter berupaya melakukan investigasi terhadap dinamika di balik perubahan ekonomi yang diamatinya secara empiris, Singkat cerita, akhirnya Schumpeter menemukan unsur explanatory-nya yang disebut "inovasi". Dan aktor ekonomi yang membawa inovasi tersebut adalah seorang wirausaha (entrepreneur). Jadi entrepreneur adalah pelaku ekonomi yang inovatif yang akan membuat perubahan.



4. Teori Austrian School. Mengutip Adaman dan Devine (2000), masalah ekonomi mencangkup mobilisasi sosial dari pengetahuan yang tersembunyi (belum diketahui umum) yang terfragmentasi dan tersebar melalui interaksi dari kegiatan para wirausaha yang mempunyai eksistensi. Pada intinya, mobilisasi sosial dari pengetahuan tersebut terjadi melalui tindakan kewirausahaan. Dan seorang wirausaha akan mengarahkan usahanya untuk mencapai potensi keuntungan dan dengan demikian mereka mengetahui apa yang mungkin dan yang tidak mungkin untuk dilakukan. Artinya, seorang wirausaha harus selalu mengetahui pengetahuan (informasi) baru dimana orang banyak belum mengetahuinya. Dan pengetahuan atau informasi baru tersebut dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan.
Penemuan pengetahuan tersembunyi merupakan proses perubahan yang berkelanjutan. Dan proses inilah merupakan titik awal dari pendekatan Austrian terhadap kewiraushaan. Ketika dunia dipenuhi ketidakpastian, proses tersebut kadang mengalami keberhasilan dan kegagalan. Namun seorang wirausaha selalu memperbaiki kesalahannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar