Selasa, 29 November 2016

Mengetahui Pengertian dan Sistem Bisnis Waralaba

Bisnis Waralaba adalah sala satu bentuk bisnis yang banyak dilirik oleh para pengusaha saat ini, baik itu pebisnis baru/pemula ataupun pebisnis yang sudah berpengalaman. Konsep bisnis waralaba ini sangat meungkinkan seseorang yang memiliki modal materiil tetapi kurang berpepngalaman dalam membangun bisnisnya sendiri untuk memiliki sebuah usaha yang menguntungkan, terutama bila membeli waralaba dari sebuah merek dagang yang sudah terkenal. Potensi bisnis ini sanagt menguntungkan untuk jangka waktu yang lama.



Pengertian Waralaba

Waralaba adalah suatu hak khusus yang telah dimiliki perorangan atau dimiliki badan usaha terhadap sistem atau usaha dalam memasarkan barang ataupun jasa yang telah ditawarkan/dipasarkan.
Tentunya yang telah terbukti manfaatnya atau yang terbukti hasil dari produk atau jasa yang ditawarkan oleh usaha waralaba. Waralaba juga dapat digunakan oleh orang lain dengan dasar perjanjian yang telah dispakati kedua belah pihak secara tertulis maupun tidak. Secara garis besar, waralaba adalah peraturan salah satu pihak yang memiliki waralaba dapat dipindah tangankan ke orang lain, dijual atau disewakan dengan adanya suatu perjanjian seperti franchiser dan masih banyak lagi.

Dengan menjalankan usaha waralaba, yang perlu diperhatikan adalah sistem waralaba yang akan dijalankan. Sistem waralaba di Indonesia dibagi kedalah dua kelompok, yaitu :

1. Waralaba Luar Negeri, banyak orang yang menyukai sistem waralaba luar negeri ini, dikarenakan sistem yang digunakan lebih jelas. Selain itu, merek yang ditawarkan sudah mendunia hingga ke pelosok-pelosok negeri.

2. Waralaba Dalam Negeri, bisnis ini juga masih banyak digemari oleh beberapa kalangan untuk berinvenstasi agar dapat menjadi pengusaha, tetapi banyak orang yang mengikuti waralaba dalam negeri ini kurang memiliki wawasan yang luas.

Sementara itu, di Indonesia sangat banyak sekali usaha-usaha yang berbasis sistem waralaba yang mana usaha ini sangat menjamur di kalangan pebsinis dunia. Untuk tetap bisa eksi di dalam dunia bisnis, banyak bermunculan waralaba yang menyajikan bermacam-macam jenis yang ditawarkan seperti usaha bidang kuliner seperti WSS (Warung Steak and Shake) dan sebagainya. Dan juga jenis waralaba dalam bidang swalayan seperti Indomaret dan masih banyak lagi jenis bidang usaha-usaha lain yang terdapat di Indonesia.

Dalam perkembangan waralaba terutama masalah merek ini memiliki perkembangan yang pesat dan banyak di pasaran Indonesia yang memakai merek-merek nasional. Bahkan Indonesia mampu bersaing dengan merek global dan regional. Namun, bisnis usaha waralaba juga memiliki keuntungan dan kekurangan, diantaranya adalah :

Keuntungan Bisnis Waralaba :
  1. Manajemen bisnis menjadi terbangun. Hal ini tentu akan membantu bagi pebisnis yang baru memulai menjalankan bisnis. Ide, manajemen, promosi yang ada hanya perlu dijalankan.
  2. Sudah dikenal masyarakat. Tentunya hal ini sangat membantu dalam hal memasarkan produk yang akan dipasarkan.
  3. Mnanjemen finansial yang lebih mudah. Biasanya para investor akan lebih mudah memberikan modal kepada bisnis yang sudah baik dari segi finansial serta pemasarannya. Dengan begitu, pebisnis akan diuntungkan karena sistem mnajemenen yang sudah diterapkan dalam bisnis waralaba itu sendiri.
  4. Kerjasama bisnis yang terbangun. Dengan bisnis waralaba, pebisnis akan lebih mudah mendapatkan stok bahan baku sehingga tidak perlu mencarinya sendiri.
Kekurangan Bisnis Waralaba :
  1. Kurang kendali. Salah satu kekurangan bisnis waralaba adalah kurangnya kendali terhdap bisnis yang dijalankan. Dalam hal ini harus adanya penekanan pada sistem manajemen yang tepat.
  2. Sangat terikat dengan supplier. Para pengusaha tentunya ingin mempunyai kondisi dimana modal kecil yang diberikan mampu memperoleh keuntungan yang maksimal. Namun dalam bisnis waralaba, pengusaha tidak dapat memilih supplier karena sudah ditentukan, sehingga pengusaha tidak bisa terikat dengan supplier yang memasarkan dengan harga yang murah.
  3. Ketergantungan dengan waralaba lain. Kekurangan terbesar dari bisnis waralaba adalah tergantungnya reputasi waralaba terhadap bisnis waralaba lain. Jika suatu waralaba terjadi kesalahan dimungkinkan bisa mempengaruhi bisnis waralaba lainnya.


Berikut itu tadi adalah sedikit wawasan mengenai bisnis waralaba, semoga pemaparan diatas bisa bermanfaat dan berguna untuk kepentingan yang berkaitan dengan bidangnya.

Selasa, 08 November 2016

Tantangan dalam Dunia Bisnis Fashion

Pada kesempatan sebelumnya kita sudah membahas mengenai tantangan dalam memulai dan mejalankan bisnis kuliner. Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas kembali tantangan bisnis sebuah bidang usaha yaitu bidang Fashion.

Bisnis Fashion sudah dijadikan oleh banyak kalngan menjadi investasi yang menjanjikan untuk masa depan. Sebut saja seperti orang-orang yang mempunyai popularitas tinggi seperti artis yang sudah berpikir untuk merambat menjajal bakat bisnis demi masa depan bila kelak popularitas sudah redup.

Dunia mode yang menjadi  bagian hidup orang-orang tenar tentu menjadi modal untuk memulai bisnis ini. Selain paham akan mode, mereka juga kemungkinan besar sudah memiliki modal besar. Namun anggapan tersebut sangatlah salah, siapapun bisa berpeluang dan berpotensi dalam mengembangkan bisnis fashion. Selain itu mengingat juga bahwa fashion (pakaian) merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, oleh karena itu semua orang akan membutuhkannya

Setiap usaha akan memiliki tantangannya sendiri, termasuk juga untuk bisnis di bidang fashion.


1. Terlalu Kreatif akan menjadi bumerang
Menjadi kreatif adalah anugerah, namun kadang bagi orang yang terlalu kreatif hingga sulit menentukan pilihan itu justru akan berdampak buruk bagi kita sendiri. Begitu juga dalam dunia mode, artinya ukuran dalam keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya dilihat dari banyaknya kreatifitas yang dituangkan dalam usaha tetapi juga dlihat dari kesanggupan ide baru yang mampu bertahan di pasar atau tidak. Ketika sebuah inovasi tidak begitu dominan ketika dia masuk ke dalam pasar, bisa jadi hal itu disebabkan karena inovasi tersebut kalah bersaing dengan barang yang sudah bertahan kuat di pasar. Oleh karena itu, ada kalanya dalam bisnis fashion kiat tidak terlalu sering dalam mengembangkan kreatifitas.


2. Takut kalah saing dengan yang lebih murah
Salah satu dilema bagi pelaku bisnis di bidang fashion adalah takut kalah dalam persaingan usaha dengan pesaing yang mengusung harga miring. Poin penting yang perlu dicatat adalah pelaku dalam bisnis fashion harus mempunyai ciri khas tersendiri pada produknya. Jika kita memasuki dunia persaingan dengan komposisi harga yang tinggi tetapi didukung oleh kekhasan produk, kualitas produk maupun kreatifitas produk, akan sangat mampu diunggulkan dalam persaingan. Justru disitulah letak kemampuan kita dalam bersaing di dunia bisnis fashion.


3. Sulit menarik peminat
Mungkin saja poin ini merupakan kelanjutan tantangan dari poin sebelumnya. Pada era saat ini, sudah banyak ditemui strategi pemasaran yang sudah dikembangkan oleh berbagai teori. Salah satu strategi pemasaran yang saat ini sudah sangat menjelma menjadi alat dalam menjalankan usaha adalah media sosial. Media sosial menjadi vital dalam menjalankan kegiatan bisnis, karena mempunyai kelebihan yang sangat membantu pelaku bisnis dalam menyebarluaskan informasi mengenai usaha yang dilakukan. Jika strategi pemasaran berupa media sosial dikaitkan dengan bisnis fashion, maka yang diharapkan adalah konsumen mampu menerima gambaran produk yang ditawarkan. Mengingat juga bahwa pada era sekarang bisnis fashion seakan-akan sudah melekat denga media sosial sebagai strategi pemasarannya, maka hal ini bisa dianggap merupakan kewajiban yang harus dilakukan dalam menjalankan bisnis fashion.



Sesulit apapun dalam menjawab tantangan dalam berbisnis, jika tetap memiliki prinsip yang kompeten dalam menjalankannya, maka tidak mustahil baginya tantangan tersebut mampu dilewati.

Selasa, 01 November 2016

Beberapa Teori Kewirausahaan

Seiring berjalannya waktu, kewirausahaan mempunyai perkembangan yang signifikan, oleh karena itu, lahirlah berbagai macam teori tentang kewirausahaan. Pada kesempatan kali ini akan membahas beberapa teori mengenai kewirausahaan, diantaranya dalah sebagai berikut :


1. Teori Neo Kalsik. Teori ini memandang perusahaan sebagai sebuah istilah teknologis, dimana manajemen (individu) hanya mengetahui biaya dan penerimaan perusahaan dan sekedar melakukan kalkulasi matematis untuk menentukan nilai optimal dari variabel keputusan. Jadi, pendekatan neo klasik tidak cukup mampu untuk menjelaskan isu mengenai kewirausahaan. Dalam teori ini, kemandirian sangat tidak terlihat, wajar saja, karena ini memang pada masa lampau dimana belum begitu urgent masalah kemandirian, namun cukup bisa menjadi teori awal untuk melahirkan teori-teori mengenai kewirausahaan selanjutnya.



2. Teori Kirzerian Entrepreneur. Dalam teori ini, Kirzer menyoroti tentang kinerja manusia, keuletannya, keseriusannya, kesungguhannya dalam berusaha, sehingga maju mundurnya suatu usaha tergantung pada upaya dan keuletan sang pelaku usaha. Dari berbagai disiplin ilmu, lahirlah teori kewirausahaan yang dipandang dari sudut pandang mereka masing-masing :

A. Teori ekonomi memandang bahwa  lahirnya wirausaha disebabkan karena adanya peluang, dan ketidakpastian masa depanlah yang akan melahirkan peluang untuk dimaksimalkan, hal ini berkaitan dengan keberanian mengambil peluang, berspekulasi, menata organisasi, dan melahirkan berbagai inovasi.

B. Teori Sosiologi lebih mempelajari tentang asal-usul budaya dan nilai-nilai sosial di suatu masyarakat, yanag akan berdampak pada kemampuannya menanggapai peluang usaha dan mengolah usaha, sebagi contoh orang etnis Cina dan Padang dikenal sebagai orang yang ulet berusaha, maka fakta di lapangan menunjukan, bahwa banyak sekali orang Cina dan Padang yang meraih kesuksesan dalam berwirausaha

C. Selanjutnya Teori Psikologi. Teori ini lebih menekankan pada motif individu yang melatarbelakangi dirinya untuk berwirausaha, apabila sejak kecil ditanamkan untuk berprestasi, maka lebih besar kemungkinan seorang individu lebih berani dalam menanggapi peluang usaha yang diperoleh.

D. Yang terakhir adalah Teori Perilaku (Behavior). Bagaimana seorang wirausahawan harus memiliki kecakapan dalam mengorganisasikan suatu usaha, memanajemenkan keuangan dengan teiliti, mebnagun jaringan, dan memasarkan produk, dibutuhkan pibadi yang supel dan pandai bergaul unutk memajukan suatu usaha.



3. Teori Schumpeter's Entrepreneur. Kajian Teori Schumpeter's lebih banyak dipengaruhi oleh kajian kritisnya teori keseimbangan (Equilibrium Theory). Menurutnya, unutk mencapai keseimbangan diperlukan tindakan dan keputusan aktor (pelaku) ekonomi yang harus berulang-ulang dengan cara yang sama hingga mencapai keseimbangan. Jadi kata kuncinya adalah berulang-ulang dengan cara yang sama, yang menurut Schumpeter disebut sebagai situasi statis, dan situasi tersebut tidak akan membawa perubahan. Schumpeter berupaya melakukan investigasi terhadap dinamika di balik perubahan ekonomi yang diamatinya secara empiris, Singkat cerita, akhirnya Schumpeter menemukan unsur explanatory-nya yang disebut "inovasi". Dan aktor ekonomi yang membawa inovasi tersebut adalah seorang wirausaha (entrepreneur). Jadi entrepreneur adalah pelaku ekonomi yang inovatif yang akan membuat perubahan.



4. Teori Austrian School. Mengutip Adaman dan Devine (2000), masalah ekonomi mencangkup mobilisasi sosial dari pengetahuan yang tersembunyi (belum diketahui umum) yang terfragmentasi dan tersebar melalui interaksi dari kegiatan para wirausaha yang mempunyai eksistensi. Pada intinya, mobilisasi sosial dari pengetahuan tersebut terjadi melalui tindakan kewirausahaan. Dan seorang wirausaha akan mengarahkan usahanya untuk mencapai potensi keuntungan dan dengan demikian mereka mengetahui apa yang mungkin dan yang tidak mungkin untuk dilakukan. Artinya, seorang wirausaha harus selalu mengetahui pengetahuan (informasi) baru dimana orang banyak belum mengetahuinya. Dan pengetahuan atau informasi baru tersebut dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan.
Penemuan pengetahuan tersembunyi merupakan proses perubahan yang berkelanjutan. Dan proses inilah merupakan titik awal dari pendekatan Austrian terhadap kewiraushaan. Ketika dunia dipenuhi ketidakpastian, proses tersebut kadang mengalami keberhasilan dan kegagalan. Namun seorang wirausaha selalu memperbaiki kesalahannya.